Dalam era globalisasi, dimana dalam pasar keuangan dibutuhkan sistem keuangan yang luas yang terjangkau secara global menyebabkan tumbuhnya lembaga keuangan yang lebih luas. Saat ini, lembaga keuangan non-bank mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan sehingga keberadaanya menentukan kondisi keuangan global. Hal ini sesuai dalam tulisan Willem Buiter dan Anne Sibert,
“Now that financial markets (and non-bank financial institutions) have increasingly taken over the function of providing credit and all forms of finance to deficit spending units, a credit crunch or liquidity crunch manifests itself in a different way from the world described by Walter Bagehot’s lender of last resort “(see Walter Bagehot (1873), Lombard Street: A Description of the Money Market)
Saat ini, credit crunch masuk dalam pasar keuangan yang dilarang, karena resiko yang ditanggung tidak dapat diukur dan mustahil untuk dihitung. Contoh kasus saat ini adalah subprime mortgage yang diback-up melalui collateralised debt obligations (CDOs) * yang tidak terdapat market maker yang mengetahui tentang harga instrumen keuangan dan harga pembelian dan penjualan yang kredibel.
Dalam tulisannya, Willem Buiter dan Anne Sibert memberikan solusi untuk Bank Sentral untuk memiliki peran sebagai the market maker of the last resort,
“The precise way in which such micro-market failure (the failure to match willing buyers and sellers at prices acceptable to both) occurs differs for exchange-traded instruments and over-the-counter financial instruments (instruments for which bilateral bargaining over a deal is the normal exchange mechanism), but the solution is the same: the central bank has to become the market maker of last resort. “[1]
Fungsi bank Sentral sebagai the market maker of the last resort dapat ditempuh melalui dua cara yaitu,
- Outright purchases and sales of a wide range of private sector securities.
- Acceptance of a wide range of private sector securities as collateral in repos, and in collateralised loans and advances at the discount window.
Saat ini The Fed, sebagai Bank Sentral Amerika Serikat menempuh fungsi tersebut dalam mengatasi krisis keuangan yang berdampak pada keuangan global. Krisis keuangan bermula dari masalah kredit perumahan (subprime mortgage) yang terjadi pada bulan Agustus 2007. Kredit tersebut terjadi karena lembaga keuangan sekuritas memberikan kredit bagi para warga yang tidak berpenghasilan tetap dan rendah dengan jaminan sertifikat tanah. Dimana sertifikat tersebut dijaminkan bank untuk mendapatkan investasi dari lembaga keuangan lain. Pada saat jatuh tempo, para debitor tidak sanggup untuk mengembalikan kewajiban, akhirnya berdampak pada kemacetan likuiditas. Bank Sekuritas yang menjadi korban diantaranya Lehman Brother, yang sahamnya turun sampai 95 % dan akhirnya collapse. Banyak lagi lembaga keuangan bank maupun non-bank yang sudah mengalami collapse terlebih dahulu yaitu, Bear Stearn, Fannie Mae dan Freddie Mac[2]. Akibat kondisi tersebut, banyak terjadi capital outflow oleh para investor. Terlebih lagi, hal tersebut dimanfaatkan para spekulan untuk mendapatkan keuntungan dengan transaksi short selling. Motifnya adalah mengambil keuntungan dari selisih harga jual yang tinggi dan harga beli yang murah. Akhirnya, mempercepat lembaga keuangan tersebut segera collapse. [3]
Sebelumnya, untuk mencegah hal tersebut, The Fed sebagai Bank Sentral Amerika sudah memangkas tingkat suku bunga dengan tujuan untuk memberikan peluang bagi para debitor untuk dapat mengembalikan kewajibannya, akan tetapi usaha tersebut tidak mendapatkan hasil. Akhirnya, strategi lain yang ditempuh adalah memberikan likuiditas untuk lembaga keuangan bank maupun non-bank sebesar $ 700 miliyar agar kegiatan operasional di pasar keuangan kembali dapat berjalan. Selain itu, The Fed juga memberikan bunga lebih terhadap reserve bank yang memiliki simpanan di Bank Sentral.
Tujuan dari beberapa srategi tersebut tidak lain adalah untuk meningkatkan tingkat likuiditas yang akan dapat mengembalikan performa dari pasar keuangan sehingga kembali menarik investasi (capital inflow). Capital adalah darah bagi urat nadi perekonomian. Hal tersebut sesuai dengan kondisi yang diharapkan Amerika agar investor berdatangan kembali ke negaranya. Hal tersebut juga mencegah risiko yang lebih buruk lagi, karena neraca belanja pemerintah yang deficit dengan jumlah yang cukup besar. Defisit tersebut selama ini, ditanggung oleh investor dalam dan luar negeri dengan jaminan
Solusi yang dilakukan pemerintah AS saat ini adalah langkah awal dalam mengahadapi masalah krisis kueangan. Karena tidak berarti kebijakan yang diambil bias berdampak setelahnya. Karena setiap kebijakan ada alasan untuk dilakukan dan ada konsekuensi yang harus ditanggung. Konsekuensi jangka panjang yang akan terjadi adalah inflasi yang cukup mengkhawatirkan tidak hanya bagi warga AS, tetapi juga warga di dunia
Pelajaran yang dapat dipetik dari masalah yang sedang terjadi adalah untuk membuat kebijaka moneter itu mudah, mencegah atau mengatasi krisi keuangan itu sulit, akan tetapi yang lebih sulit adalah melakukan tindakan untuk keluar dari kegentingan kredit tanpa memperhatikan fondasi dari perusahaan untuk kredit berikutnya dan ledakan likuiditas. Hal tersebut sesuai yang diungkapkan Willem Buiter dan Anne Sibert dalam akhir tulisannya,.
“Monetary policy is easy; preventing or overcoming a financial crisis is hard; managing the exit from a credit squeeze without laying firm foundations for the next credit and liquidity explosion is harder still. Our central bankers should earn their keep by acting as market makers of last resort. Covering the central bank's posterior is less important than preventing avoidable financial instability” [4]
* CDOs adalah
2 Willem Buiter and Anne Sibert.2007.The Central Bank as the Market Maker of last Resort: From lender of last resort to market maker of last resort
[2]&4 Sri Hartati Samhadi, Ekonomi Dunia Krisis Kepercayaan di Wall Street (Kompas,19 September 2008)
Wah,,,keren ya,,,yang samangat nulis ya an!!
BalasHapus